Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Jumat, 01 April 2011

15 SEBAB TURUNNYA BALA

Mengapa Manusia Ditimpa Bencana?
Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh At-Tarmizi daripada Ali bin Abu Talib, Rasulullah saw bersabda yang bermaksud:
“Apabila umatku melakukan 15 perkara berikut, maka layaklah mereka ditimpa bencana iaitu:
1. Apabila harta yang dirampas (daripada peperangan) diagih-agihkan kepada orang-orang yang tertentu sahaja.
2. Apabila zakat dikeluarkan kerana penebus kesalahan (terpaksa).
3. Apabila sesuatu yang diamanahkan menjadi milik sendiri.
4. Apabila suami terlalu mentaati isteri.
5. Apabila anak-anak menderhakai ibu bapa masing-masing.
6. Apabila seseorang lebih memuliakan teman daripada ibu bapa sendiri.
7. Apabila kedengaran banyak bunyi bising.
8. Apabila lebih ramai berbicara mengenai hak keduniaan di dalam masjid.
9. Apabila sesuatu kaum itu terdiri daripada orang yang dihina oleh mereka.
10. Apabila memuliakan seseorang kerana takutkan tindakan buruknya.
11. Apabila arak menjadi minuman biasa.
12. Apabila lelaki memakai sutera.
13. Apabila perempuan dijemput menghiburkan lelaki.
14. Apabila wanita memainkan alat-alat muzik.
15. Apabila orang yang terkemudian menghina orang terdahulu, maka pada saat itu tunggulah bala yang akan menimpa dalam bentuk angin merah (puting beliung) atau gerak gempa yang maha dahsyat atau tanaman yang tidak menjadi.
Seandainya kita sama-sama merenungi hadis di atas, tidak dapat tidak kita akan menerima hakikat bahawa bencana yang menimpa sesuatu kaum itu adalah berpunca daripada perbuatan mereka sendiri. Oleh itu, kembali kepada yang dituntut oleh Islam, semoga kehidupan kita akan dirahmati keamanan dari dunia hingga ke akhirat.

12 AZAB BAGI MEREKA YANG MENINGGALKAN SHOLAT

Dalam sebuah hadis menerangkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda :
“Barangsiapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya.
Tiga darinya akan dirasainya semasa di dunia ini antaranya :-

1.Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.

2.Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.

3.Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.

Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :

1.Roh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.

2.Dia akan merasa yang amat pedih ketika roh dicabut keluar.

3.Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.

Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-

1.Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan.

2.Kuburnya akan menjadi cukup gelap.

3.Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).

Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :

1. Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.

2. Allah S.W.T sangat murka kepadanya.

3. Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka

TERHAPUSNYA PAHALA SEBAB TIDAK MEMAKAI JILBAB

Seseorang yang bersumpah palsu saja dimuka pengadilan adalah berat hukumannya, apalagi seorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukuman didalam neraka, yaitu sampai di gantung dengan rambutnya hingga mendidih otaknya.[1] Kaum wanita menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil yang tertutup dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan.Ini adalah cara berpikir yang salah harus diluruskan.Kaum wanita yang tak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya sebagai bunyi surat Al-Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya sbb:

“….. Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi”.

Sebagaimana telah diterangkan dimuka, memakai jilbab bagi kaum wanita adalah hukum syariat Islam yang digariskan Allah dalam surat An-Nur ayat 59.Jadi kaum wanita yang tak memakainya, mereka telah mengingkari hukum syariat Islam dan bagi mereka berlaku ketentuan Allah yang tak bisa ditawar lagi, yaitu hapus pahala shalat, puasa, zakat dan haji mereka?.

Sikap Allah diatas ini sama dengan sikap manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagai terlambang dari peribahasa seperti:“Rusak susu sebelanga, karena nila setitik,”. Contoh segelas susu adalah enak diminum. Tetapi kalau dalam susu itu ada setetes kotoran manusia, kita tidak membuang kotoran tersebut lalu meminum susu tersebut, tetapi kita membuang seluruh susu tersebut.

Begitulah sikap manusia jika ada barang yang kotor mencampuri barang yang bersih. Kalau manusia tidak mau meminum susu yang bercampur sedikit kotoran, begitu juga Allah tidak mau menerima amal ibadah manusia kalau satu saja perintah-Nya diingkari.

Di dalam surat Al A’raaf ayat 147, Allah menegaskan lagi sikapNya terhadap wanita yang tak mau memakai jilbab, yang berbunyi sbb.:

“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, juga mendustakan akhirat, hapuslah seluruh pahala amal kebaikan. Bukankah mereka tidak akan diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan?”

Kaum wanita yang tak memakai jilbab didalam hidupnya, mereka telah sesuai dengan bunyi ayat Allah diatas ini, hapuslah pahala shalat, puasa, zakat, haji mereka.

Sungguh-sungguh betul harus dikasihani wanita seperti ini dengan menyadarkan mereka supaya patuh kepada Allah, yaitu keharusan memakai jilbab didalam hidup mereka. Kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, mengucapkan “Allahu Akbar” didalam shalat mereka, yang artinya “Allah Yang Maha Besar”, Dialah yang Maha Kuasa dan pemimpin tertinggi yang harus dipatuhi seluruh perintahNya, sedang dia adalah hamba Allah yang lemah dan hina dina yang tak berdaya sama sekali.

Tetapi diluar shalat dia tak mau memakai jilbab yang melambangkan ciri khas seorang wanita muslimah. Kalau begitu ucapan “Allahu Akbar” didalam shalat mereka adalah kosong tidak berbekas dihati mereka.

Jadi dapat dimengerti kenapa shalat mereka tidak ada nilainya disisi Allah, atau telah hapus pahalanya sesuai dengan bunyi surat Al Maidah ayat 5 baris terakhir dan surat Al A’raaf ayat 147 di atas tadi.

Kaum wanita yang tak mau memakai jilbab berada dalam neraka sebagaimana bunyi hadits Nabi Muhammad SAW diatas, juda ditegaskan Allah sebagaimana firmanNya di dalam surat Al A’raaf ayat 36 yang artinya seperti:

“Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.

Kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, adalah mendustakan ayat Allah surat An Nur ayat 31 dan Al Ahzab ayat 59 dan menyombongkan diri terhadap perintah Allah tersebut, maka sesuai dengan bunyi ayat tersebut diatas mereka kekal didalam neraka.

Ummat Islam selama ini menyangka tidak kekal didalam neraka, karena ada syafaat atau pertolongan Nabi Muhammad SAWyang memohon kepada Allah agar ummat yang berdosa dikeluarkan dari neraka.Mereka yang dikeluarkan Allah dari neraka, mereka yang dalam hidupnya ada perasaan takut kepada Allah. Tetapi kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, tidak ada perasaan takutnya akan siksa Allah, sebab itulah mereka kekal didalam neraka.

Seseorang yang sadar akan dosanya digambarkan Nabi Muhammad SAW seperti bunyi hadits yang artinya seperti:

“Sesungguhnya seorang mukmin dosanya itu bagaikan bukit besar yang kuatir jatuh padanya, sedang orang kafir memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap diatas hidungnya”. (Riwayat: ……………………)

Sekarang kaum wanita yang tak mau berjilbab, dapat menanya hati nurani mereka masing-masing. Apakah terasa berdosa bagaikan gunung yang sewaktu-waktu jatuh menghimpitnya atau bagaikan lalat yang hinggap dihidung mereka?.

Kalau kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, menganggap enteng dosa mereka bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya, maka tak akan bertobat didalam hidupnya. Atau dalam perkataan lain tidak ada perasaan takutnya kepada Allah, sebab itu mereka kekal didalam neraka sebagaimana bunyi surat Al-A’raaf ayat 36 di atas. Jadi mereka tak mendapat syafaat atau pertolongan Nabi Muhammad SAW nanti di akhirat.

Banyak sekali kaum wanita yang tak berjilbab sungguhpun mereka mendirikan shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi telah hapus nilai pahalanya disisi Allah telah terjadi di zaman kita ini dan akan berketerusan sampai hari kiamat, kecuali dakwah menghidupkan risalah jilbab ini dikerjakan bersama-sama oleh seluruh ummat Islam, yaitu dengan mencetak ulang buku yang tipis ini dengan jumlah yang banyak dan disebarkan secara cuma-cuma ketengah-tengah ummat Islam.

Sesungguhnya banyak kaum wanita yang hapus pahala shalatnya yang hidup di zaman ini dan di zaman yang akan datang, semata-mata karena mereka tidak memakai jilbab didalam hidup mereka, telah diisyaratkan Nabi Muhammad SAW dikala hidup beliau sebagaimana bunyi hadits dibawah ini yang artinya sbb:

“Ada satu masa yang paling aku takuti, dimana ummatku banyak yang mendirikan shalat, tetapi sebenarnya mereka bukan mendirikan shalat, dan neraka jahanamlah bagi mereka”.(Riwayat: ……………………)

Tafsir “…sebenarnya bukan mendirikan shalat…” dari hadits diatas, ialah nilai shalat mereka tidak ada disisi Allah karena telah hapus pahalanya disebabkan kaum wanita mengingkari ayat jilbab. Begitulah Nabi Muhammad SAW memberi peringatan kepada kita semua, bahwa banyak ummatnya dari kaum wanita yang masuk neraka biarpun mereka mendirikan shalat, tetapi tidak memakai jilbab didalam hidup, apakah kita yang mengaku mencintai sesama ummat Nabi Muhammad SAW akan diam berpangku tangan membiarkan kaum wanita berada berketerusan dalam dosa ?.

10 MITOS TENTANG AYAH/BAPAK

10 MITOS TENTANG AYAH/BAPAK
Ayah era dulu digambarkan sebagai ayah yang melulu mencari nafkah di luar rumah lalu pulang membawa uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mereka hanya meluangkan waktu sedikit untuk anak-anak.
David J. Eggebeen dan Chris Knoester, dua psikolog keluarga dalam bukunya Does Fatherhood Matter For Men (Willeys Book, Los Angeles, USA 2000) memaparkan banyak pencitraan tentang pria masa kini yang masih berasumsi dari mitos-mitos kebapakan generasi sebelumnya.
Padahal ayah-ayah sekarang berbeda. Mereka sadar betul bahwa ayah adalah sosok yang sama pentingnya dengan ibu bagi anak.

Mitos 1: Ketika bayi, anak tidak memerlukan ayah.
Fakta: Marcus Jacob Goldman, MD dalam bukunya The Joy of Fatherhood (Three River Press, UK, 2000) memang menegaskan soal kedekatan hubungan antara ibu dan bayi, terutama bila bayi sedang menyusu. Pemandangan ini membuat ayah tidak yakin apakah si bayi memerlukannya. Untungnya, ayah zaman sekarang tahu cara yang tepat untuk mendekatkan diri pada buah hatinya, yakni dengan berani menggendong, mencium dan membelai si kecil.

Mitos 2: Ayah tidak tahu cara merawat anak.
Fakta: Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend lewat bukunya Raising The Great Children (Zondervan, UK, 1998) mengatakan para ibu tak perlu khawatir karena pada kenyataannya ayah dapat merawat anak-anak sama baiknya dengan ibu karena semua ayah sebenarnya secara naluriah dikaruniai kemampuan untuk merawat anaknya. Tentu saja, seperti halnya ibu, ayah juga butuh waktu untuk belajar merawat buah hatinya, terutama ketika si kecil baru lahir. Ingat, para ayah juga butuh referensi agar terbiasa dengan perannya.

Mitos 3: Ayah yang penuh perhatian pada anak biasanya tak konsentrasi di jalur kariernya.
Fakta: Pria dibesarkan dan dididik untuk bekerja. Pekerjaan menjadi salah satu kunci dari rasa percaya diri mereka. Sayangnya, masyarakat menilai pria yang mengorbankan hidupnya dan lebih memilih keluarga daripada kariernya adalah mereka yang tidak sukses dalam pekerjaannya. Padahal menurut Cloud dan Townsend (1998), kini zaman sudah berubah. Banyak pria yang sangat menikmati perannya sebagai ayah. Peran ini sedemikian berarti dan meningkatkan status ayah. Perubahan status ayah ini justru dirasakan sebagai pemicu untuk lebih sukses dalam karier sehingga kian banyak kebutuhan anak yang dapat terpenuhi.

Mitos 4: Pola asuh ayah akan sama dengan ayahnya dulu.
Fakta: Biasanya pria akan mengikuti cara ayahnya dulu ketika sang ayah membesarkannya. Tapi pria sekarang juga berusaha menciptakan identitas dirinya sendiri sebagai seorang ayah. Para ayah modern berani mencontoh dan melihat role model dari media massa, lingkungan sosial, dan buku-buku pengasuhan. Mereka berani memilih yang terbaik bagi keluarganya dengan mengambil sisi positif dari keluarga di mana dulu dia dibesarkan. Demikian yang ditegaskan Daniel N. Hawkins, Paul R. Amato, Valarie King (2006) dalam Parent-Adolescent Involvement: The Relative Influence of Parent Gender and Residence” dalam Journal of Marriage and Family.

Mitos 5: Ayah tak mau mengorbankan pekerjaannya meski demi anak-anak.
Fakta: Dulu, ayah dianggap tidak pantas bila harus keluar dari pekerjaannya. Kini, pasangan modern semakin realistis. Bila karier ibu lebih maju, bisa saja ayah dengan sukarela meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus rumah dan anak-anak. Lagi pula banyak pekerjaan zaman sekarang yang bisa dilakukan di rumah oleh para ayah, semisal menjadi konsultan ataupun penulis. Hal ini dinyatakan Koray Tanfer dalam bukunya, The Meaning of Fatherhood. (Whitaker Aguse, UK, 2002).

Mitos 6: Ayah hanya meluangkan sedikit waktu bersama anak-anaknya.
Fakta: Penelitian yang dilakukan Richard Lamb (2002) di Amerika terhadap 3.500 ayah berusia 25-45 tahun membuktikan hal sebaliknya. Kini, semakin banyak ayah yang bersedia meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama anak-anaknya. Ketersediaan waktu tersebut diwujudkan dalam bentuk keterlibatan dalam pengasuhan anak, berinteraksi dengan anak dalam jarak dekat (ketika di rumah) maupun jarak jauh (memantau dari kantor) serta menemani anak belajar. Para ayah menyadari bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, berhak mendapatkan waktu lebih banyak, sama banyaknya dengan waktu yang disediakan ibu.

Mitos 7: Ayah tunggal pasti tak mampu mengasuh anak-anaknya.
Fakta: Ayah tunggal, entah karena perceraian ataupun kematian, kini banyak yang betul-betul siap mengasuh anak-anaknya sendirian. Mereka dengan terampil dan up to date mampu menyiapkan kebutuhan anak-anaknya dan mendidik mereka. Di Indonesia, menjadi ayah tunggal mungkin terbantu dengan banyaknya uluran tangan dari kerabat dekat. Toh di luar negeri pun seperti dikemukakan oleh Terry Arrendell dalam Divorce: It’s a Gender Issue, American Bar Association Family Advocate, Vol. 17, bahwa ayah zaman sekarang tampaknya tak canggung sendirian membesarkan anak-anaknya.

Mitos 8: Peran ayah tidak berubah selama dua dekade.
Fakta: Salah besar bila mengatakan peran ayah stagnan alias tak mengalami peningkatan. Nyatanya, temuan Louise B. Silverstein dan Carl F. Auerbach dalam artikelnya Deconstructing the Essential Father yang dimuat dalam Journal of American Psychologist, Vol.54, menyatakan begitu banyak peran tradisional yang dulu dipegang ibu, kini tak sungkan diambil alih oleh ayah. Kecuali hamil, melahirkan dan menyusui, ayah semakin jauh terlibat dalam kehidupan si anak. Coba saja perhatikan, para ayah ini menemani bermain, mendampingi belajar, makan bersama, bahkan menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.

Mitos 9: Ayah tidak dapat menggantikan peran ibu bagi anak perempuan.
Fakta: Apa pun jenis kelamin anaknya, ayah mampu menjadi role model yang tepat. Bagi anak lelaki, ayah menjadi contoh bagaimana berperilaku dan bersikap sebagai seorang gentleman. Sedangkan bagi anak perempuan, ayah merupakan contoh yang dekat dan sehat bagaimana dunia lelaki yang sesungguhnya sehingga anak perempuan tidak akan canggung ketika kelak menghadapi lawan jenisnya dalam pergaulan sosial. Demikian yang dikupas Piere Bronstein & C. P. Cowan dalam Fatherhood Today: Mens Changing Role In the Family. John Wiley & Sons, New York, 2002.

Mitos 10: Ayah hanya berkutat pada soal disiplin.
Fakta: Ayah memang sering dicitrakan sebagai pribadi kaku yang hanya mengedepankan soal disiplin dan keteraturan bagi anak-anaknya. Padahal sebenarnya, seperti yang disebut M.Y. Yogmen & Dwight Kindlon dalam bukunya Fathers, Infants and Toddlers (Harpers Parenting, New Jersey, 1998), ayah juga mampu bersikap hangat kepada anak-anak. Kehangatan itu ditunjukkannya dalam bentuk bermain bersama, menyiapkan makan malam bersama ibu dan menemani anak-anak belajar. Ayah modern justru enggan mencitrakan dirinya sebagai sosok yang dingin yang disegani dan dijauhi anak-anaknya.

1 DALAM 600.000 ORANG

1 DALAM 600.000 ORANG

Abdullah bin Mubarak menceritakan sewaktu beliau tertidur di Masjidil Haram, beliau ternampak dua malaikat turun dari langit. Berkata salah seorang darinya, “Berapa ramai bilangan yang menunaikan haji tahun ini?” Jawab yang disebelahnya, “600,000 orang.”

“Di antara mereka berapakah yang diterima hajinya?” Jawab malaikat kedua, “Di antara mereka, hanya seorang saja. Namanya Muwaffaq, dia tinggal di Damsyik, pekerjaannya sebagai tukang kasut, dia tidak dapat berhaji, tetapi hajinya diterima oleh Allah,” Bila tersedar dari tidur, Abdullah segera berangkat ke Damsyik untuk mencari lelaki ini.

Setelah bertemu, Abdullah pun bertanya, “Terangkan padaku, apakah amalanmu sehingga mencapai darjat yang tinggi?” Jawab Muwaffaq, “Dengan rahmat Allah, aku telah mengumpulkan wang sebanyak 300 dirham yang aku simpankannya untuk mengerjakan haji pada tahun ini. Wwaktu itu, isteriku sedang hamil dan dia telah tercium sesuatu dari rumah jiran dan dia menyuruhku memintanya sedikit kerana mengidam.

Aku pun mendapatkan jiranku itu. Berkata jiranku kepadaku, “Aku terpaksa memberitahumu satu perkara, anak-anakku sudah tiga hari tidak makan.”

Sewaktu aku keluar mencari makanan, aku terjumpa bangkai himar lalu aku potong sebahagian dagingnya lalu aku masak, maka makanan ini halal bagi kami tetapi haram bagimu.

Mendengarkan kata-kata wanita ini, aku segera pulang ke rumah dan mengambil wang 300 dirham itu lalu aku berikan padanya. Aku berkata kepada diriku, “hajiku hanya di pintu rumah jiranku.” Hanya itulah saja amalanku.

Demikianlah besarnya rahmat Allah kepada hambanya, sesungguhnya Allah tidak memandang pada harga yang kita ada tetapi niat yang ikhlas lagi suci.